March 31, 2012

there is no “Y” (why) in happiness….it is an “I”…

(dedicated to: susan, deasy, candy…..thanks for sharing all the glitches, the stupidity, and the laughs and of course, the wonderful of lifetime sisterhood..…!)

 

Saya dan sahabat-sahabat saya: Susan, Deasy (terutama dia….my great partner in crime), dan Candy entah kenapa paling suka mengamati dan mentertawakan hal-hal semacam all the misspell thing… Hmm, tampaknya semua orang pun begitu ya. Bukannya mau sok-sok an mengatakan kami-kami ini lebih hebat dan lebih jago dari orang-orang loh. Cuma hal-hal begitu lucu aja buat kami. Dan kalau sudah begitu maka kami tak segan-segan untuk saling menelpon atau berkirim SMS untuk saling memberitahukan hal-hal aneh tersebut. Seperti ketika suatu malam, Deasy tiba-tiba menelpon saya, dan bukaannya sapaan ‘hallo’ yang pertama kali saya dengar, tapi justru suara tertawanya yang terbahak-bahak yang saya dengar.

Sambil susah payah menahan tawa dia bilang,” Debie, kau tau gak, aku lagi di jalan Pramuka nih…trus di depan gang ini ada tulisan Kambing Di Juwal. Juwal, Debie…bukan Jual. HAHAHAHAHA…..

Pernah juga ketika ada orang yang SMS ke saya minta design saya:

"Debby (Hah!nulis nama saya aja salah! DEBIE!). tolong kamu buatkan “desaint” kitchen set nya ya.

Nanti mau saya ”frint” out."

Tanpa tedeng aling-aling, SMS tersebut langsung saya forward ke Deasy. Atau ketika seorang teman saya menyuruh saya mematikan komputernya dengan “sut don”. (Shut Down, maksudnya). Dan ketika salah seorang teman Deasy yang di Bandung mengatakan dirinya yang habis diputusin pacar sekarang lagi “dowen”. (Tentu maksudnya Down). Atau ketika Deasy mampir ke sebuah warung, ketika ada seorang perempuan berseragam SMU mencari sampo rejos. Atau, ketika orang di kantor lama saya bilang,” Mbak saya ngirim barangnya pakai Kapal Kloper. Yang dimaksud ternyata Clover.

Ada lagi, seorang calon klien saya pernah datang ke showroom mebeul tempat saya pernah bekerja. Ia wanita separuh baya, berbadan subur, wajahnya persis Artis Elvi Sukaesih. Dari cara ia memarkir mobil, berjalan, sampai menghempaskan bokongnya yang besar ke tempat duduk, saya sudah tahu, ibu ini tipe Orang Kaya Baru. Ketika atasan saya bertanya," Ibu mau cari apa?". Ia mengedarkan pandangannya menelusuri isi showroom, lalu dengan lantang bicara," Saya mau cari Sopa (sofa)!"…. Saya dan Pak Willy, atasan saya, saling berpandangan mahfum. Lalu Ibu itu melanjutkan," Saya udah beli satu set di Jakarta, untuk Ruang tamu saya. Barangnya udah di Fucking (Packing)!"

*big grin*

Bahkan ketika seorang karyawan Deasy punya maksud hati menulis maintenance, apa daya yang tertera di kertas justru mantenen. Susan lain lagi. Akibat kadung menghubungi seorang tukang mebeul, sementara kami belum jelas akan pesen kapan, si tukang mebeul yang udah kadung punya nomer hp nya susan gak pernah segan-segan menghubungi Susan hanya untuk sms : gimana kabarnya mbak? Saya tunggu ‘invormasi’nya. Candy malah pernah menemukan sebuah salon yang dengan kebanggaan sepenuh hati membentangkan spanduknya lebar-lebar dengan tulisan besar-besar….”Menerima MIC COVER”…yang setelah kami cerna bersama –sama ternyata maksudnya adalah..Make Over…

Ooowww....

Tapi nyatanya, tidak semua the glitches (the misspell thing) berarti konyol dan hanya pantas untuk ditertawakan. Satu kali, dari sebuah kekeliruan, saya justru belajar sesuatu mengenai hidup. Suatu hari karena bosan di rumah, saya iseng-iseng beli DVD “ The Pursuit of Happyness” (yang bajakan tentunya. Hidup pembajak!). Sambil memutar DVD tersebut saya iseng-iseng melihat ke DVD Case nya, saya baru sadar di situ tertulis besar-besar “Happyness” bukannya “Happiness”, Happyness dengan “Y”, bukannya dengan “I” seperti yang sudah seharusnya.




Saya sudah tergelitik ingin cepat-cepat mengirimkan SMS tentang hal itu pada Deasy, ketika tokoh yang diperankan oleh Will Smith, yaitu Chris Gardner mengantar anaknya ke sebuah Daycare atau tempat penitipan anak. Tepat di dinding gedung Daycare yang dikelola oleh orang Cina tersebut terdapat mural atau lukisan dinding yang bertuliskan Happyness. Si Chris Gardner, meski sedang terburu-buru untuk bekerja menyempatkan diri untuk ‘protes’: “Hey, man. When is somebody gonna clean this off? You know this is wrong. It is an “I” in Happiness. There is no “Y” in happiness."

Then I think…He’s damn right. That is why Chris Gardner become a multi-billion dollar man. He is now a Wall Street Legend. Because he does believe that there is no “Y” (Why = kenapa) in Happiness. There is an "I" (I = me = aku). Ia selalu percaya bahwa kebahagiaan, kesuksesan tidak pernah turun begitu saja dari langit. Ia haruslah diusahakan, dan bahwa diri kita sendirilah penentu kebahagiaan bagi diri kita masing-masing. Kebahagiaan kita itu ada dalam tangan kita sendiri.


See? Got the message? I always do believe, that The Almighty God may have made our fate. But He also gives us choices to choose our own path. Then, the happiness in our life is made by ourselves. No Why in happiness.

Kadangkala mungkin lebih bijaksana kalau hidup dijalani seperti air. Mengalir saja tanpa harus melawan. Tenang mengikuti arusnya. Tuhan mungkin sudah menentukan takdir kita masing-masing. Dan kita tinggal menjalaninya saja, seperti air mengalir mengikuti arusnya. Namun terkadang Tuhan memberikan pilihan dalam hidup kita, apa yang akan kita lakukan terhadap hidup kita sendiri. Maka ketika itu, jadilah ombak yang melawan setiap arus, bertahan untuk hidup itu sendiri.

Percayalah bahwa hidup kita sudah ditulis oleh Tuhan.

Tapi akhir dari cerita, kita sendirilah penulisnya…

Deb :)