March 09, 2012

hey, misters....what have you done to my country ???

Saya ga ngerti politik. Ga fasih bicara soal itu. Tapi kalo soal complain, saya paling jago (yeah…me and my big mouth…hehehe).
Saya sekarang cuma mau complain perkara sepele. Soal jalan aja.

Begini.
Saya tinggal di sebuah daerah bernama Jalan Sentosa di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia. Barangsiapa yang melewati jalan itu, terutama Ibu-ibu yang sedang hamil niscaya pasti akan bersumpah-sumpah tak sudi lewat di jalan itu dengan kendaraan baik mobil, motor apalagi sepeda.  Khawatir beranak di tempat, demikian kata mereka.
Kondisi jalan sungguh jauh dari baik. Akibat seringnya dilanda banjir, mungkin aspal jalan tersebut yang saya yakin bukan aspal kelas yahud lah (ga paham saya kelas-kelas aspal…hehehe) terabrasi dan lalu meninggalkan lubang-lubang besar menganga disana-sini.  Saya tadinya tidak begitu peduli, karena frekuensi saya melewati jalan itu toh tidak setiap hari, mengingat sudah 3 tahun ini saya bekerja di luar kota Samarinda. Parahnya, di tempat saya bekerja, jalan utamanya pun tidak kalah meriah penuh dengan lubang disana-sini. Maka, perjalanan saya setiap kali pulang cuti, dari tempat kerja menuju rumah (dan sebaliknya) bagai  neraka. Terombang-ambing penuh nestapa.


Jalan berlubang kaya gini hampir ada di sepanjang jalan menuju rumah saya.....

Kondisi jalan berlubang itu mungkin diperparah akibat seringnya banjir di daerah itu juga


Saya jadi bertanya-tanya, siapakah sesungguhnya yang bertanggungjawab atas perbaikan jalan di daerah tersebut? Pasti jawabnya: Rakyat. Pertanyaan saya lagi, rakyat yang mana? Rakyat yang tinggal di daerah itu kah? Atau rakyat pengguna jalan itu kah? Atau rakyat yang duduk di perwakilan daerah kah? Atau rakyat jelita seperti saya kah…?? Hehehehe…. Rakyat yang mana nih?
Saya ga tau. Karena itu tadi saya bilang, saya ga fasih kalo bicara soal pemerintahan apalagi  politik.
Tapi setahu saya dana untuk perbaikan jalan daerah itu diperoleh dari pajak yang dibayarkan oleh warga negara seperti saya dan warga Negara Indonesia lainnya.

Pengertian pajak itu sendiri adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang —sehingga dapat dipaksakan— dengan tiada mendapat balas jasa secara langsung. Pajak dipungut penguasa berdasarkan norma-norma hukum untuk menutup biaya produksi barang-barang dan jasa kolektif untuk mencapai kesejahteraan umum (http://id.wikipedia.org/wiki/Pajak)

Kesejahteraan umum apa maksudnya? Saya tinggal di daerah itu sudah puluhan tahun, sedari saya masih kanak-kanak. Meski sudah bolak-balik ganti Presiden, Kepala Daerah sampai ganti Ketua RT jalannya ya tetap dengan lubang menganga disana-sini itu tadi.  Air bersih kami usahakan sendiri melalui sumur bor. Listriknya mati-hidup seenaknya sendiri. Sejahtera dari mananya?
Jadi, sesungguhnya dikemanakan uang iuran yang dengan rajin  kami setorkan ke kas negara itu dengan harapan mendapat imbalan kesejahteraan umum yang layak?

Raib.

Lalu tiba-tiba di berita dan televisi muncul berita-berita yang bikin saya sakit kepala. Dengan topik abadinya: korupsi. Dimana kata-kata itu begitu fasih dilagukan rakyat di negeri ini mulai dari balita sampai nenek-nenek. Dari yang buta aksara sampai yang khatam bangku sekolahan bertahun-tahun dan punya berderet-deret gelar di depan dan dibelakang namanya. Negara ini begitu fasih dan sudah terbiasa dengan adat korupsi sepertinya. Malahan di Hari Anti Korupsi tahun lalu, dalam rangka menumbuhkan sikap antipati terhadap korupsi di usia dini, maka diadakankanlah acara “menendang koruptor” di Kampung Anti Korupsi. Ckckckckc…. Bukannya memberi teladan yang baik bagi yang muda, para generasi tua ini malah mengajarkan untuk menyelesaikan segala persoalan dengan kekerasan. 
Bukan main Negara ini.

Saya bukan mau sok nasionalis atau sok menjadi pengamat politik dan pemerintahan tanah air. Tidaklah. Siapa lah saya ini? Ilmu saya tidak cukup untuk sampai kesana. Apalagi di negeri ini punya banyak sekali pengamat politik yang saya yakin sangat mumpuni mengingat mereka kerap hadir di acara Televisi, dan sering bikin kening saya berkerut-kerut dengan bahasa-bahasa canggih tingkat dewa mereka (inflasi, signifikan, koalisi, konversi bbm, suku bunga, subsidi listrik, peningkatan tax ratio...maakk...sungguh superb! Saya ga paham satu katapun....-__-).  Saya cuma bagian kecil dari rakyat jelita (hehehe…) yang sedih rasanya melihat Negeri saya ini menjadi sedemikian rupa. Apa yang terjadi dengan Negeri yang katanya begitu gemah ripah loh jinawi ini? Pasca reformasi yang diharapkan membawa perubahan berarti setelah tumbangnya rezim 32 tahun itu bukannya membuat keadaan di negeri ini membaik, malahan semakin carut-marut. Mereka yang dulunya berdiri di garda depan revolusi untuk reformasi Indonesia sekarang justru duduk bermewah-mewah di gedung megah ibukota dengan memakai sebutan didadanya: wakil rakyat. Mereka tak lagi peduli rakyat yang namanya mereka catut untuk memuluskan jalan mereka ke kursi empuk berharga jutaan rupiah di Senayan sana. Mereka tak segan-segan plesir ke luar negeri dengan dalih studi banding dikala sebagian rakyat menderita karena bencana alam dan bencana sosial. Dan ditengah-tengah begitu banyak permasalahan negara yang krusial, bisa-bisanya seorang wakil rakyat malah lebih concern dan heboh ngurusin  paha wanita dan rok mini ketimbang mengurusi lembaganya….
Duh, Gusti!

Waktu SMP dulu saya pernah baca resensi sebuah film yang tidak begitu terkenal dari Jerman, yang saya lupa judulnya. Kisahnya tentang seseorang yang karena sakit dan  tertidur sekian lama dimasa Tembok Berlin masih berdiri memisahkan Jerman Timur dan Jerman Barat, sampai akhirnya ia terbangun ketika Tembok tersebut diruntuhkan, dan ia terkaget-kaget melihat perubahan di negaranya.
Rasanya saya pingin begitu. Ingin rasanya saya tidur untuk waktu yang lama, kemudian terbangun dan perubahan ada di negeri ini. Dimana semuanya sesuai dengan Indonesia yang tergambar begitu indah dalam benak saya persis seperti kisah Indonesia yang tercetak di buku PMP dan IPS saya di kala Sekolah Dasar ...

..Indonesia yang gemah ripah loh jinawi...

…pemimpin bijaksana yang menjadi suri tauladan…

..fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara...

..pendidikan gratis bagi semua....

..infrastruktur layak sampai ke daerah-daerah….

..rakyat dengan pekerjaan dan penghidupan layak…

..kebebasan beragama dan menjalankan ibadah tanpa ada paksaan dan kekhawatiran....

Dan tak lupa….

..jalan poros di Jalan Sentosa, Samarinda, Kalimantan Timur,  tempat saya tinggal mulus dengan aspal terbaik  dengan pohon-pohon rindang di kanan-kirinya mirip jalan-jalan di film Hollywood dimana saya  bisa melintas jalan itu sambil tersenyum, dengan kaca mobil terbuka lebar, saya dengan syal berkibar-kibar tertiup angin dan berkacamata hitam sambil tersenyum lebar persis seperti di film-film Hollywood…


Keren banget ga siiihh kalo melintas di jalan ini kaya di film-film......^_^




……..
Yeah, Deb.
You Wish!

Maybe I have to swallow my dreams as I shout this out to everyone who I assume has the responsibility to all those sh*ts that happened to my country lately:

“HEY, MISTERS….. WHAT HAVE YOU DONE TO MY COUNTRY?” *eyebrow raised*

:)

Tuhan Memberkati saya, kamu, dan Indonesia.

Amin.