August 3, 2007
Satu malam, tepatnya dini hari pukul 02.00, perut saya mendadak kruyukan gak karuan minta di isi. Musibah datang beruntun, tepat disaat tak ada makanan tersisa di meja makan, juga tak ada bahkan satu remah roti pun tersisa. Duh, sialnya. Beruntung ketika saya mengorek-ngorek lemari dapur, masih ada sisa sebungkus mie instant, (punya pembantu. Minta ya….hahahahaha…).
So, there is my supper. Thank God.
Saya punya satu kebiasaan, ketika makan saya harus membaca, kalau tidak membaca, maka saya harus nonton TV, kalau tidak ada TV untuk di tonton maka saya harus ditemani seseorang ketika makan agar saya bisa ‘ngoceh’. Entah bagaimana, saya tak pernah bisa makan dalam diam.
Karena tidak ada majalah atau komik baru untuk di baca, tak ada seorang pun yang rela bangun hanya untuk menemani saya makan sambil mendengar saya mengoceh, jadilah dini hari itu saya makan sambil menonton TV. Tau sendirilah, pada dini hari kalau tidak sinetron–sinetron gak penting, maka layar TV akan berhias tayangan-tayangan olahraga, obrolan setengah porno yang dikemas dalam bentuk talkshow atau film vampire dari cina. Sekedar info, saya tidak berlangganan TV Kabel, jadi tidak bisa menyaksikan film-film seru yang diputar HBO, Star Movie, AXN, dll. Hiks !
Sambil makan mie, saya mengutak-atik remote TV hanya untuk mencari saluran TV yang menayangkan iklan (bagi saya lebih terhormat saya menonton iklan ketimbang harus nonton sinetron. Maaf-maaf saja ya), saya menemukan satu stasiun TV yang menayangkan film yang berkisah tentang Napoleon Bonaparte. Actually, not about Napoleon himself, tapi tentang kisah seorang lelaki yang ditangkap atas tuduhan terhadap pengkhianatan melawan kudeta terhadap Napoleon. Laki-laki ini, Edmond Dantes, terpaksa harus mendekam di penjara Champ d’if selama belasan tahun akibat pengkhianatan sahabatnya, Mondego. Bertahun-tahun dipenjara, dengan perlakuan yang jauh diluar batas kemanusiaan membuat kepercayaan Dantes pada Tuhan yang akan memberinya sebuah keadilan (terlihat dengan pahatannya pada dinding penjara : GOD WILL GIVE ME JUSTICE), perlahan-lahan berkurang bahkan berubah menjadi satu sikap skeptis. Ia lalu berusaha untuk melarikan diri dari penjara. Usahanya mencari jalan keluar dari penjara membuatnya bertemu dengan seorang Pendeta yang ditempatkan satu tingkat dibawahnya. Singkat cerita,
berdua mereka merencanakan untuk menggali sebuah terowongan yang ujungnya (harapan mereka) berada di luar penjara. Alih-alih mengantarkan mereka ke luar penjara, terowongan yang mereka gali justru runtuh. Dantes sempat menyelamatkan diri, sementara si Pendeta tua tertimbun runtuhan terowongan. Dantes berusaha menyelamatkan si Pendeta dengan menyeretnya kembali ke dalam penjara. Sambil meregang nyawa, Pendeta tua itu berpesan kepada Dantes untuk memadamkan dendamnya terhadap Mondego, sang sahabat yang mengkhianatinya. “ Lupakanlah. Forgive & forget. Biarkan Tuhan yang membalas semuanya.”
Dantes menjawab,” Aku tidak lagi percaya Tuhan.”
Si Pendeta tersenyum dan berkata “ It doesn’t matter, my son. He believes in you.” Lalu ia menghembuskan nafas terakhirnya.
…….
There you go….
Satu kalimat saja. Tapi langsung menembus isi hati dan kepala saya. It doesn’t matter whether you believe in GOD or not. He believes in you. Tak pernah terpikirkan sekalipun oleh saya, bukan kita yang harus berteriak-teriak kita mempercayai-Nya, lalu jumawa di depan orang-orang yang menurut kita belum percaya, menepuk dada dan dengan bangga mengatakan, “Aku percaya pada Tuhanku. Terkutuk lah kamu yang tidak.” Jauh sebelum kita percaya Tuhan, Ia telah lebih dulu percaya kita. Bahkan ketika kita kehilangan kepercayaan kita terhadap-Nya, Ia tak pernah berhenti percaya pada kita. Ia percaya kita mampu.
Ketika saya menonton film itu, hidup saya tepat berada pada titik busuk sebusuk-busuknya. Masalah dengan keluarga, pacar, dan pekerjaan datang bersamaan dengan kadar krusial yang sama pada tingkat tertinggi. Saya sampai berteriak pada Tuhan (dalam hati saja sih…) ,”God , why me??” kenapa harus saya yang dikasih cobaan sedemikian berat? Kenapa Tuhan tidak memilih untuk ‘menjungkirbalikkan’ hidup orang lain saja, ketimbang ‘bermain’ dengan hidup saya?”.
Then I know, because He believes in me.
He believes that I am stronger more than I ever know.
He knows my strength and He believes that I can make it.
Proud to say, I am a strongest person; in the making.