Saya ini sepertinya memang ditakdirkan untuk selalu bermasalah di Supermarket.
Awal bulan lalu, saya seperti mengalami de javu persis seperti ketika saya menceramahi kasir yang berniat ‘menyunat’ uang receh kembalian saya dengan alasan basi untuk disumbangkan ke yayasan kemanusiaan (http://debora-andherbigmouth.blogspot.com/2011/09/uang-recehnya-mau-disumbangkan.html)
Bagai tak jera, di supermarket penuh kenangan itu, di siang hari itu berdirilah saya mengantri dengan sabar menunggu Ibu di depan saya yang sedang dihitung belanjaan segunungnya. Mau rasanya saya pindah, mencelat ke kassa lain, tapi sama aja, semua penuh dengan para pembelanja yang masing-masing berdiri disamping keranjang penuh belanjaan. Maklum, awal bulan. Masing-masing sibuk menambah stock persediaan logistik di rumah, mungkin.
Di belakang saya, berdiri dua anak muda alay nan galau, perkiraan saya usia SMA atau awal kuliah. Khas dengan penampilan mereka yang lumayan bikin saya sakit mata: celana skinny yang diplorotkan sampai celana boxernya ngintip tanpa malu-malu, potongan rambut khas yang hilang arah tujuan mau jadi apa. Pemuda yang satu, dengan gaya rambutnya yang panjang hanya dibagian godek doang (bikin saya teringat teman kuliah saya dulu yang kami panggil 'siluman lele'), rada tinggian, lengkap dengan behelnya. Yang satu lagi pakai kacamata gagang tanduk dengan pongah memakai earphone ditelinga (yang ini lumayan bikin saya sakit telinga, karena sibuk melolong-lolong mengikuti lagu yang ga jelas entah apa yang didengarnya). Dua anak muda ini berbelanja satu kotak buah strawberry.
Yang rada tinggian, si siluman lele itu, tiba-tiba dengan pede mencolek bahu saya: “Tante (apaaaaaaahhh?????)…. Kita duluan dong. Kan kita cuma belanja satu aja. Tante belanjanya banyak tuh, “ katanya cengar-cengir sambil melirik ke keranjang belanjaan saya.
Saya tatap lekat-lekat wajah si anak muda belagu kurang ajar itu, mulai dari pucuk poninya yang menjulang tinggi bagai nantang Tuhan itu sampai ke sepatu sneakers-nya yang warna tali sepatunya saling berbeda sebelah-menyebelah, lalu dengan tajam sambil melengos saya bilang, “Kamu ngerti yang namanya ngantri nggak?”
Si siluman lele menggerutu lalu terkekeh-kekeh bersama temannya yang sudah berhenti melolong (akhirnya! Puji Tuhan!) sambil bersekutu berbisik-bisik dibelakang saya membicarakan, atau tepatnya, mencela saya.
Seseorang harus memberikan pelajaran tata krama kepada dua bocah ini, pikir saya.
(Alert! Sometimes I think I was born to be a 'bitch'. To screw with people or things which I don’t like...)
Tak lama, tepat dibelakang dua pemuda itu, masuklah dalam baris antrian kami seorang Ibu berjilbab, yang kalau saya taksir usianya sudah lebih 50 tahun menjelang 60. Ia tersenyum sambil membawa keranjangnya yang berisi dua bungkus biskuit dan satu kotak susu untuk kesehatan tulang (saya jadi ingat Ibu saya sendiri). Saya tersenyum kepadanya, dan selagi si siluman lele sibuk bersama temannya mencela saya, saya tepuk bahunya,” Hey, anak muda… Sorry, bisa tolong kasih jalan dulu untuk Ibu saya? ” kata saya sambil menunjuk si Ibu.
Ketika si Ibu sudah berada di dekat saya, saya persilahkan ia mengambil antrian tepat di depan saya, “Mari Bu, silahkan…” Tepat ketika itu orang di depan saya sudah menyelesaikan transaksinya, jadi beliau tidak perlu berlama-lama berdiri mengantri. Si Ibu tersenyum sumringah memegang tangan saya sambil mengucapkan terima kasih.
Si siluman lele melemparkan wajah protesnya dengan ketus,”Tadi kita ga boleh! Giliran nenek-nenek itu boleh! Kita belanjanya cuma satu doang koq! Capeekk dehh….”katanya lengkap dengan gaya punggung tangan di tempelkan dijidat.
Yaiikksss….!! Entah kenapa denger jargon khas pemuda alay di kata penghabisannya itu semakin bikin saya emosi. Saya tarik nafas panjang dan memilih untuk mendiamkan. Sabar. Sabaaarrr.
Si bocah masih nekad bikin saya naik darah melanjutkan ,” Ngerti yang namanya ngantri nggak seehh?”
What the hell ?! Dia pake kata-kata saya yang tadi saya pake untuk membungkam mulut besarnya !!
Ok, that’s it. Cukup sudah.
Saya mulai kehilangan kesabaran. Darah saya naik ke ubun-ubun. Saya balik badan ke arahnya, “Hai, kamu…! Mau tau alasan kenapa saya kasih tempat saya untuk ibu itu bukannya ke kamu?”
"Pertama, Ibu tadi itu ngerti budaya antri itu seperti apa. Ga peduli kamu belanja cuma secuil bawang atau segenggam seledri, bila itu mengharuskan kamu untuk antri ketika membayarnya, mengantrilah. Dan Ibu itu, di usia setua itu, berdiri diam aja menunggu gilirannya. Bukannya mencolek orang di depannya untuk minta duluan kaya kamu. Wajar kalo saya simpati, dan menyilahkan dia mengambil tempat di depan saya. Dan tentu kamu sekarang tau betapa menyebalkan rasanya ketika antrianmu diserobot, bukan? "
"Kedua, kamu harus belajar untuk menghormati orang lain. Mencolek seseorang yang lebih tua dari kamu untuk minta agar diberi ijin menyerobot antriannya sungguh bukan perbuatan terpuji. Dan itu sama sekali ga buat saya simpati…”
Dua bocah itu, termasuk si kasir, terlongo-longo salah tingkah di depan saya. Mimpi apa mereka semalam didamprat oleh saya dan mulut besar saya ini ditengah orang banyak kaya gini. Hehehehe…..
Biarlah, entah omongan saya itu akan sampai ke kepala mereka yang tertutup rambut galau itu atau tidak, yang penting seseorang harus memberi pelajaran kesantunan bagi dua bocah tengil ini.
Orang akan menyebut saya songong, arogan, sok, jutek, bitchy dan bahkan gila setelah membaca ini. But, you know what? I don’t give any damn. Saya tidak peduli.
Some people need to be educated, somehow. Even by stranger in the supermarket.
P.S:
Kalau kalian sedang berada di supermarket dan terjadi semacam kehebohan disana, coba iseng-iseng di cek, bisa jadi itu saya, sedang screw with people or thing which I don't like.
Hehehehe….:)


No comments:
Post a Comment