February 14, 2012

friends: a song of life, a memento*….

Ketika sedang menulis ini, saya sedang dikantor di hari terakhir bekerja (mengingat besok sudah mulai cuti) yang seharusnya saya sibuk dengan kerjaan untuk hand over, bukannya melakukan hal yang saya lakukan sekarang ini: bekerja dengan earphone dikuping  sambil (pura-pura) sibuk kerja padahal ‘sibuk’ denger-denger dan mengumpulkan lagu-lagu jadul koleksi jaman SMA, yang rencananya nanti akan diputar manakala Reuni bersama teman-teman SMA di 12 Juni. Ketika playlist sampai di lagu ‘Torn’ (Natalie Imbruglia), saya teringat ketika saya dan sahabat-sahabat saya tergila-gila pada trend rambut messy model si Natalie, lalu ada lagu ‘How Do I Live’ (Trisha Yearwood) yang jadi lagu wajib saya dan sahabat-sahabat saya kala itu manakala sedang jatuh cinta berat sama gebetan. Hehehehe….. Trus ada lagi lagu ‘Sebelum Kau Terlelap’ (DEWA 19), lagu itu istimewa buat saya, karna seseorang di SMA yang juga istimewa dihati pernah menyanyikan lagu itu untuk saya melalui telpon sampai saya terkantuk-kantuk dan tertidur sukses dengan telpon masih ditelinga…. Hehehehehehe……^_^

Ada lagi lagu ‘As Long As You Love Me’ (BSB), itu lagu waktu lagi ngecengin adik kelas. Hahahahha… ampuuuunnnnn…… Truuuss ada lagi lagu dari The Corrs ‘What Can I Do’ itu lagu favorit saya dan sahabat saya, Susan dan Dita, manakala gebetan kami masing-masing ga ngeh-ngeh juga bahwa kami ini sedang jatuh cinta pada mereka. Hahahahhahaha……. Ampuuuunnn ampuuunnn….. :D :D :D

Daaann dari semua lagu di playlist itu lagu favorit saya adalah ‘Back for Good’ (Take That), entah bagaimana lagu itu selalu mengingatkan saya pada hari-hari nelangsa keparat dimasa OPSPEK, di masa pertama kami di SMA: berambut dikuncir/kepang 2 dengan pita berlainan kiri-kanan, berpita leher berwarna ungu terong (harus warna ungu terong, bukan ungu janda….!), memakai papan nama dari karton, memakai tas dari karung gandum yang diberi tali rapia, dan seperti masih belum cukup terlihat macam orang gila, di tas itu masih dipercantik dengan balon imut-imut yang diberi ukuran diameter sekian centimeter berwarna putih merah. DAMN!
Belum lagi tiap hari kami kenyang makan bentakan dan makian dari para kakak-kakak panitia yang sok bengis (saya pernah dimaki persis ditelinga saya. Sialan!), lalu untuk kemudian jadi sok seleb ketika kami harus berkeliaran menandak-nandak setiap hari mengumpulkan tanda tangan mereka. DAMN! DAMN! DAMN!

Dan masa-masa di SMA setelah itupun tidak lantas jadi mudah, mengingat kala itu di sekolah kami juga bergabung SMA Plus yang isinya manusia-manusia ‘pemakan buku’ yang jenius. Hehehehe…..
Jadilah sekolah dimulai jam 7 pagi, pulang jam 4 sore. Dan kalau tidak mau raport belang bonteng dengan angka 3,4,5 maka harus rajin-rajinlah ikut les atau kursus di Bimbel setelahnya (meski rasanya tak sudi karena otak dan badan sudah sedemikian lelahnya). Itupun masih belum menjamin nilai ulangan bagus kalo tidak melakukan 3 hal berikut ini:
  1. Duduklah disebelah teman yang juara kelas (minimal si teman ini masuk 10 besar di kelas lah..)
  2. Punya paling tidak 3 trik mencontek. Kalo tidak biasa mencontek, duduklah disebelah teman yang terkenal handal mencontek 
  3. Rajin-rajin berkisik-kisik dengan teman dari kelas lain supaya dapat bocoran soal (lebih mantap lagi kalo dengan bocoran jawabannya sekalian)
Hehehehehe……^_^

Maka setiap kali saya mengenang itu semua, tawa saya selalu pecah. Tak peduli seberapapun menderitanya kami kala itu, hal itu selalu menyenangkan untuk dikenang. Dan selalu jadi hal yang saya syukuri. Masa SMA selalu menjadi salah satu masa terbaik dalam hidup saya. Sahabat terbaik, pembelajaran terbaik, semua saya dapat di masa itu. Hampir seluruh sahabat saya di masa SMA masih dan selalu menjadi sahabat saya sampai detik ini.
Yang terbaik. Di hati selamanya :)

I believe everything in life except friends and amily is rubber ball; it may bounce back when you drop it. But friends and family is crystal ball; they shuttered on the ground.
:)

*memento: A hint, suggestion, token, or memorial, to awaken memory; that which reminds or recalls to memory; a souvenir (http://www.artikata.com/arti-115481-memento.html

February 03, 2012

dear you.....

Dear You,
I have a lifetime question in my head about what is - God’s best laid plan - for my life?
I have to admit that my life wasn’t easy.
I hate the world so much. I hate the fact that my life was just like shit.
I hate the fact that things are not going right in my way.
I screamed to heaven “God…why me???”
I murmured to Him,” Am I not good enough, Dear God…”
But then I figured it out that it wasn’t my fault if life is a mess.
He gave me this messy life for some reasons.
He wants me to be a fighter.
He believes in me, that I am stronger.
He trusts me.
Then I started to learn that every question have an answer.
We don’t need to search for it, one day it will reveal by itself.
Some lessons learned, dear.
I learned to count all my blessings.
I learned to love.
I learned to open and to be loved.
I learned to smile again.
Most of all, I learned to forgive.
I know that my life is nothing easy. And it will never be easy.
But I challenge myself to fight it.
There is plenty options to feel good about and plenty options to feel bad about.
I have two choices. I choose the first one.
As I told you before; my life is just like chocolate.
The darker, the bitter - is the better.
And since the darker one is always more expensive than the lighter one,
I know my life is precious.
Today, I realize that my pain start to become my strength.
I learned it all from you.
Thanks for everything.
I move forward, dear.
Hope you, too.
And with my very best, a cheers to my future happiness,
I set you free….

P.S:


Should the destiny put us into a crossing road in the future, you'll see that I am smiling and happy as always.
Whether you are happy or not, it is none of my bussiness.... ;)




in god we trust, in us god trust...

August 3, 2007
Satu malam, tepatnya dini hari pukul 02.00, perut saya mendadak kruyukan gak karuan minta di isi. Musibah datang beruntun, tepat disaat tak ada makanan tersisa di meja makan, juga tak ada bahkan satu remah roti pun tersisa. Duh, sialnya. Beruntung ketika saya mengorek-ngorek lemari dapur, masih ada sisa sebungkus mie instant, (punya pembantu. Minta ya….hahahahaha…).
So, there is my supper. Thank God.
Saya punya satu kebiasaan, ketika makan saya harus membaca, kalau tidak membaca, maka saya harus nonton TV, kalau tidak ada TV untuk di tonton maka saya harus ditemani seseorang ketika makan agar saya bisa ‘ngoceh’. Entah bagaimana, saya tak pernah bisa makan dalam diam.
Karena tidak ada majalah atau komik baru untuk di baca, tak ada seorang pun yang rela bangun hanya untuk menemani saya makan sambil mendengar saya mengoceh, jadilah dini hari itu saya makan sambil menonton TV. Tau sendirilah, pada dini hari kalau tidak sinetron–sinetron gak penting, maka layar TV akan berhias tayangan-tayangan olahraga, obrolan setengah porno yang dikemas dalam bentuk talkshow atau film vampire dari cina. Sekedar info, saya tidak berlangganan TV Kabel, jadi tidak bisa menyaksikan film-film seru yang diputar HBO, Star Movie, AXN, dll. Hiks !
Sambil makan mie, saya mengutak-atik remote TV hanya untuk mencari saluran TV yang menayangkan iklan (bagi saya lebih terhormat saya menonton iklan ketimbang harus nonton sinetron. Maaf-maaf saja ya), saya menemukan satu stasiun TV yang menayangkan film yang berkisah tentang Napoleon Bonaparte. Actually, not about Napoleon himself, tapi tentang kisah seorang lelaki yang ditangkap atas tuduhan terhadap pengkhianatan melawan kudeta terhadap Napoleon. Laki-laki ini, Edmond Dantes, terpaksa harus mendekam di penjara Champ d’if selama belasan tahun akibat pengkhianatan sahabatnya, Mondego. Bertahun-tahun dipenjara, dengan perlakuan yang jauh diluar batas kemanusiaan membuat kepercayaan Dantes pada Tuhan yang akan memberinya sebuah keadilan (terlihat dengan pahatannya pada dinding penjara : GOD WILL GIVE ME JUSTICE), perlahan-lahan berkurang bahkan berubah menjadi satu sikap skeptis. Ia lalu berusaha untuk melarikan diri dari penjara. Usahanya mencari jalan keluar dari penjara membuatnya bertemu dengan seorang Pendeta yang ditempatkan satu tingkat dibawahnya. Singkat cerita,
berdua mereka merencanakan untuk menggali sebuah terowongan yang ujungnya (harapan mereka) berada di luar penjara. Alih-alih mengantarkan mereka ke luar penjara, terowongan yang mereka  gali justru runtuh. Dantes sempat menyelamatkan diri, sementara si Pendeta tua tertimbun runtuhan terowongan. Dantes berusaha menyelamatkan si Pendeta dengan menyeretnya kembali ke dalam penjara. Sambil meregang nyawa, Pendeta tua itu berpesan kepada Dantes untuk memadamkan dendamnya terhadap Mondego, sang sahabat yang mengkhianatinya. “ Lupakanlah. Forgive & forget. Biarkan Tuhan yang membalas semuanya.”
Dantes menjawab,” Aku tidak lagi percaya Tuhan.”
Si Pendeta tersenyum dan berkata “ It doesn’t matter, my son. He believes in you.” Lalu ia menghembuskan nafas terakhirnya.
…….
There you go….
Satu kalimat saja. Tapi langsung menembus isi hati dan kepala saya. It doesn’t matter whether you believe in GOD or not. He believes in you. Tak pernah terpikirkan sekalipun oleh saya, bukan kita yang harus berteriak-teriak kita mempercayai-Nya, lalu jumawa di depan orang-orang yang menurut kita belum percaya, menepuk dada dan dengan bangga mengatakan, “Aku percaya pada Tuhanku. Terkutuk lah kamu yang tidak.” Jauh sebelum kita percaya Tuhan, Ia telah lebih dulu percaya kita. Bahkan ketika kita kehilangan kepercayaan kita terhadap-Nya, Ia tak pernah berhenti percaya pada kita. Ia percaya kita mampu.
Ketika saya menonton film itu, hidup saya tepat berada pada titik busuk sebusuk-busuknya. Masalah dengan keluarga, pacar, dan pekerjaan datang bersamaan dengan kadar krusial yang sama pada tingkat tertinggi. Saya sampai berteriak pada Tuhan (dalam hati saja sih…) ,”God , why me??” kenapa harus saya yang dikasih cobaan sedemikian berat? Kenapa Tuhan tidak memilih untuk ‘menjungkirbalikkan’ hidup orang lain saja, ketimbang ‘bermain’ dengan hidup saya?”.
Then I know, because He believes in me.
He believes that I am stronger more than I ever know.
He knows my strength and He believes that I can make it.
Proud to say, I am a strongest person; in the making.
:)