January 14, 2012

kisah satu hari tanpa gadget a.k.a handphone a.k.a blackberry

Pernah terbersit dibenak saya untuk mencanangkan satu hari (acak) saja tanpa gadget (which is mean my Blackberry, that I think has embedded in my right hand). Demi menyadari betapa saya begitu addict terhadap gadget satu itu.


Saya harus akui, saya adalah salah satu manusia yang bisa disebut Blackberry-freak. Bagaimana tidak?
Hari saya dimulai pagi hari sekali, dikala saya bangun di pukul 5 pagi untuk siap-siap bekerja.
Dan hal pertama yang saya lakukan setelah mematikan alarm (yang juga disetel dari BB tersebut) adalah mengecek semua notifikasi yang masuk dari BBM, BB Group, SMS, Misscall, FB. Kemudian setelah itu nyaris sepanjang hari sepanjang malam, saya akan sibuk sesekali mengecek BB bagai orang sakaw. Untuk tertawa-tawa sendiri (macam orang gila) chit-chat bersama teman-teman lama saya di group BBM, membalasi komen-komen dari FB, atau sekedar confirm friend request , membalas SMS atau menelpon/ditelpon. Dan hal itu saya lakukan sering-seringkali ditengah-tengah jam kerja saya (mudah-mudahan bos saya ga baca blog saya ini. Amin.). Belum lagi kebiasaan saya, ketika saya sedang sarapan sendirian di pantry kantor, saya biasanya sibuk makan sambil BBM-an atau SMS-an.
Parahnya, meski tidak ada notifikasi apapun, saya sering iseng-iseng ngecek BB hanya untuk membaca ulang obrolan di BB Group, BBM ataupun SMS - SMS lama.
Segitu freaknya saya, ya Tuhan....-_-

Ok, that's it.
Ini namanya pembodohan sekaligus pembudakan gila-gilaan. Hampir separuh waktu saya seperti dibudakin oleh gadget bernama Blackberry ini dan saya sungguh-sungguh tidak sudi.
Cukup sudah!
Mengingat sedari kecil, saya sudah ditanamkan nilai-nilai untuk menghargai waktu oleh kedua orangtua saya, terutama ayah saya, yang lumayan strict soal waktu. (Pernah sekali waktu beliau mengirimkan SMS yang isinya hitung-hitungan matematika jikalau seorang manusia menghabiskan sekian jam untuk tidur siang, maka ia sudah menghabiskan sekian bulan dari setahun hidupnya dengan sia-sia. SMS itu lumayan 'mengintimidasi' dan membekas sampai sekarang. Hehehehe....). 

Maka, demikianlah. Demi mulut besar saya yang sudah bersumpah-sumpah tidak mau dibudakin si gadget itu, maka saya putuskan hari ini sebagai hari tanpanya.
Sungguh superb bukan?
Dan, semesta sepertinya mengamini keinginan terdalam saya, tepat di hari ini signal/jaringan di site tempat saya bekerja mengalami gangguan.
Halleluijah!

Maka beginilah saya melalui 1 Hari tanpa Blackberry:

6.00 AM
Masih anteng.
Buka-buka email, buka Kompas.com (biar update dong soal negeri dan dunia ini, jadi ga udik-udik amat meski saya kerja di tengah hutan rimba). Trus lanjut buka FB (Hey, Deb…..!)

7.00 AM
Dengan reflex saya ambil BB dilaci, untuk kemudian kecele karena bukankah sedang gangguan jaringan? Layar BB saya terpampang jelas tulisan No Service yang seakan-akan ngelecehin saya “Gotcha…”

7.30 AM
Saya lumayan sibuk dengan kerjaan, jd ga gitu peduli sama BB lagi.

9.30 AM
Tapiiii…..akibatnya, saya malah sibuk buka-buka FB dari computer. Hahahaha…….

10.00 AM
Balik kerja lagi dan lumayan sibuk karena hari ini ada tamu dan ada meeting.

11.00 AM
Lagi-lagi ngerogoh laci buat ngecek BB tanpa sadar. DAMN!

12.00 PM
Saya balik ke camp untuk makan siang, dan waktu istirahat di kamar….BB saya taroh aja di meja dan tiba-tiba bunyi notifikasi datang bertubi-tubi….(oh iya, baru saya ingat, suka datang ‘signal kiriman’ dari site sebelah kalo lagi pas di camp)…. Saya sibuk baca-baca BB sampai saya kemudian sadar, hey, bukannya hari ini adalah hari tanpa BB mu, deb? Ya udah BB saya taruh lagi dan saya silent.
Tuh segitunya saya komit sama 1 Hari Tanpa Blackberry ini.....

1.00 PM
Saya balik ke kantor. Dalam perjalanan balik ke kantor, lagi-lagi BB saya bunyi-bunyi melulu. Saya tergoda untuk baca, ga papa lah saya pikir, kan saya cuma baca, ga ikutan chatting.

1.05 PM
Saya mendapati diri saya ketawa-ketawa sendiri membaca dan menimpali chatting teman-teman saya  di BB group, diatas mobil yang saya tumpangi dalam perjalanan ke kantor…..Geez, Deb…. -_-

1.10 PM
Sesampainya dikantor, saya teringat niat dan tekat bulat saya untuk menghormati diri saya sendiri dan sang waktu yang berharga itu, maka BB saya kantongin lagi dengan dignity…. (Padahal ya memang di kantor sudah tidak ada jaringan lagi kan?wakakaka……)

1.30 PM
Saya dapat email dari si bos yang minta saya cek BBM saya. Urgent, katanya. Ok, ini lain cerita ya. Ini urgent loh. Konsekuensinya saya dipecat kalo saya ignore perintah si bos. Maka dengan alasan itu saya excuse ke ruangan di belakang kantor saya (satu-satunya ruangan yang dipasangi repeater/penguat signal). Disana saya asik membalasi BBM si bos dan hey, ada beberapa BBM dari teman dan sahabat-sahabat saya. Lalu, teman-teman di group BB saya juga lagi asik berchit-chat yang seru-seru.

3.00 PM
Astaga!! Sudah jam segini??? Sebaiknya saya kembali ke meja saya dan kerja.

4.30 PM
Saya mlipir-mlipir ke ruangan belakang, bukan untuk BBMan. Tapi cuma numpang naroh BB. Siapa tau si bos BBM yang urgent lagi… (Hey, kita kan ga tau, si bos mau BBM kapan aja, dan yang namanya situasi urgent kan bisa kapan aja…..)

5.45 PM
Saya ambil BB saya di belakang, sibuk membalasi BBM dan SMS yang masuk, lalu berpikir untu menyudahi semuanya. Mau rasanya saya ketawa getir dan teriak keras-keras: MISSION FAILED !!!!!

1 Hari Tanpa Blackberry saya GATOT alias GAGAL TOTAL.

Hiks.... :'(

Maka demikian lah kisah 1 Hari Tanpa Blackberry saya dan bagaimana tidak becusnya saya menjalankan komitmen saya atas mulut besar saya.


Kesimpulannya:
Si Blackberry ini memang punya pesona dan pelet maha dahsyat yang buat saya seperti pecandu, yang tidak bisa hidup tanpanya. Gila.
Gilanya, saya sudah tahu ini gila, tapi masih saja saya lakukan. Persis seperti kalo kita mencandu ganja (kaya pernah-pernahnya aja saya ini kecanduan ganja…..). Tapi satu hal yang saya yakini benar, bahwa alat komunikasi selular terutama Blackberry ini suka atau tidak suka memang sudah sedemikian ‘merampas’ waktu kita, dengan atau tanpa kita sadari.





Berapa banyak sih dari kita yang ketika harus menunggu di ruang tunggu sebuah bandara, memilih untuk membaca atau berbincang dengan calon penumpang lain, bukannya sibuk mengutak-atik handphone kita?
Atau, berapa banyak dari kita yang ketika sedang antri di suatu tempat memilih untuk diam saja berdiri, atau kalau memang cukup ramah mengajak orang yang ngantri dibelakang atau di depan kita mengobrol, daripada sibuk dengan handphone? Nyaris ga ada ya?
Atau pernah tidak kalian alami, meski serumah, anda lebih memilih ber-BBM-an ketimbang berbicara langsung? (Adik saya sering melakukan itu jika ia malas keluar dari kamarnya dan kebetulan ada perlu sama saya).
Ada juga beberapa orang yang bahkan tidak lagi bisa terpisah dari BBnya. Salah seorang teman saya malah bisa asik-asikan BBM-an sambil menunaikan hajat pagi harinya di toilet.
Parahnya, dan yang paling saya tidak suka, ada orang yang bisa-bisanya memakai handphone sambil mengendarai kendaraan. Sering saya lihat, orang dengan cueknya bicara di handphone yang diselipin ke helmnya! Tidakkah dia tahu bahwa kebiasaan buruknya itu bisa membahayakan hidup orang lain juga hidupnya. Ckckckck......
Harus kita akui, di dunia yang semakin menua dan semakin canggih ini, alat komunikasi selular yang seharusnya sesuai dengan komitmennya "mendekatkan yang jauh" justru menjauhkan yang dekat. Alat bantu komunikasi yang seharusnya cukup jadi alat bantu saja itu justru membuat kita seperti handicap, yang lumpuh tanpanya. Banyak dari kita yang begitu nelangsa dan tak berdaya ketika ketinggalan handphonenya.
Saya sadari benar itu. Dan saya harus merubahnya. Berat, pasti. Terbukti dengan apa yang saya alami hari ini.... -_-
Namun layaklah untuk terus dicoba.
Saya ingin jadi orang yang lebih sosial. Dengan manusia, bukan dengan benda ciptaan manusia.

Saya ingin ketika orang berbicara dengan saya, saya menatap wajah orang itu, alih-alih menundukkan wajah saya ke BB sambil sesekali menimpali: "hah? kenapa? Apa tadi?", agar ia tau saya menghormati dia yang berbicara dengan saya.
Saya ingin bisa melenggang tenang ketika berpergian meski satu saat saya ketinggalan BB saya di rumah, bukannya kalang kabut kembali ke rumah hanya demi mengambil si BB tersebut.
Atau bisa nyantai aja ketika BB saya lowbatt bahkan mati total kehabisan baterai, bukannya sibuk numpang nge-charge di resto/warung/tempat manapun yang bisa ditumpangi dan berbekal portable charger adalah sebuah kewajiban.
Saya ingin hidup saya dikuasai oleh saya, bukan diperbudak oleh benda.
Semoga saya bisa.
J

Tapi, by the way, satu SMS pamungkas paling mumpuni untuk menutup 1 Hari Tanpa Blackberry saya adalah SMS dari antah berantah yang saya dapat barusan:

+62812177*****

Permisi Mas. Sy blh tahu Mas usaha Anda apa ?
Utk se-wkt2 sy mbutuhkn.
Kalo sy jualan alat pengusir tikus. http://hujanmadu.blogspot.com/




Yang saya balas demikian:


Permisi juga Mas.
Saya usaha Pet Shop. Jualan dan ternak tikus.

Makasih. http://hujanduit.blogspot.com/

:)
Happy Weekend.

January 11, 2012

love against religion (spread the love, not religion)

“We have enough religion to make us hate each other, but not enough to make us love one another.”

Saya ingat seseorang yang sangat saya hormati pernah bilang: “Manusia kalau terlalu dekat sama Tuhan kadang jadi jahat sama manusia. Soalnya dia jadi merasa karena jadi yang paling deket sama Tuhan dia ngerasa dia yang  paling sempurna….udah aja manusia lain dianggap kotor dan berdosa sama dia, ga pantes untuk dianggap….”

Dulu kening saya berkerut-kerut, setengah mati tak setuju dan sampai berapi-api saya mendebat si bapak. Sekarang, semakin saya lihat dunia, semakin saya kenal penghuninya dengan berbagai label agama mereka, semakin saya mengerti bahwa bapak itu ada benarnya.
Kadangkala, dalam kepatuhannya menjalankan perintah agamanya, manusia melupakan manusia lain yang diciptakan untuk hidup berdamping-dampingan dengannya di bumi. Hanya karena tak terima cara ibadah yang berbeda, kitab suci yang berbeda, maka perang dan kekerasan lah jawabannya untuk menyamakan segala perbedaan.

Kalau sekiranya beragama hanya membuat setiap perbedaan menjadi permasalahan, saya akan memilih untuk tidak beragama.
Jika agama hanya membuat satu kaum merasa paling benar dari kaum lainnya, saya mungkin akan memilih tidak memeluk agama manapun. Karena terkadang, dengan melabeli diri dengan sebuah agama saja bisa jadi sesuatu yang salah di dunia ini. Kadang, dengan melabeli diri mereka dengan agama, manusia bisa dengan jumawa menepuk dadanya kuat-kuat sebagai manusia yang paling benar, agamanya yang paling benar.
Toh tidak beragama belum tentu tidak percaya Tuhan, bukan?

Agama manapun, saya yakin, mengajarkan dan percaya bahwasanya Tuhan itu Maha Kuasa dan Maha Segala. Perkara meniadakan sekian agama didunia ini dan menyisakan satu agama saja agar semua makhluk ciptaannya berlutut dan menyembahNYA dengan cara yang sama tentu perkara maha mudah bagiNYA. Kenapa tidak dilakukannya? Tentu karena IA punya tujuan dan maksud ketika diciptakanNYA manusia dengan seribu perbedaan tersebut. Agar setiap manusia bisa tetap saling menghargai perbedaan-perbedaan tersebut.

Jika sungguh Surga itu ada, saya percaya, kelak, Surga pasti hanya akan dihuni oleh orang-orang baik.
Bukan oleh orang beragama.


Spread the Love, not the religion. For God is wherever love is.



Tuhan memberkati.