October 22, 2011

tentang cinta, luka dan mengampuni

Saya punya seorang sahabat yang menyimpan dendam bertahun-tahun terhadap ayahnya. Ia menganggap ayahnya lah yang bertanggungjawab atas kehidupannya yang menyedihkan, kelam, keras, dan tak seberuntung temannya yang lain. Ia bilang, “Aku bangga jadi laki-laki bajingan, Deb. Karena sekeras apapun aku nyoba untuk jadi orang baik, dalam darahku sudah mengalir darah dari seorang bajingan, jadi percuma aja kan dan ga ada yang bisa ngerubah itu.”

Saya bilang padanya,” You have your own value. And unfortunately it is not a value for being an asshole. We both know you could do better than that. Kalau kamu merasa hidupmu begitu ‘jahanam’nya maka mustinya kamu harus belajar untuk menghargai diri kamu sendiri dulu. I always put my respect highly on myself. Because I appreciate my maker: GOD. Never lose your faith in GOD. Salah satunya adalah dengan percaya bahwa kamu tidak dihadirkan-NYA di dunia untuk jadi sia-sia”.

Lalu dengan marah dia bilang,” Kamu sih enak kalo ngomong, deb! Bukan hidupmu yang kaya anjing! Hidupmu baik-baik saja: keluargamu bahagia, berkecukupan, apa aja yang kamu mau kamu bisa dapat, makanya kamu bisa ngomong kaya gitu. Rasain dulu hidup kaya taik kaya aku gini, baru kita liat kamu bisa ngomong apa....??!!!”

Saya tak kalah marah waktu itu, saya bilang,” Oh ya? Tau apa kamu soal hidupku? Siapa bilang hidupku baik-baik aja? Apa kamu tau bahwa kita berdua menyimpan amarah yang persis sama, bahkan aku pernah menyimpannya selama hampir separuh hidupku? Apa kamu tau bahwa kita pernah sama-sama terluka oleh orang yang seharusnya kita cintai dan mencintai kita? Tapi celakanya kita justru terpaksa hidup dalam kebencian terhadapnya...”

Di masa kanak-kanak saya, saya pernah menyimpan amarah dan dendam pada orang yang paling dekat dan sangat saya cintai hampir lebih dari separuh hidup saya. Hati saya terluka, dan saya hidup dalam kepahitan. Saya meratapi hidup saya sendiri yang menurut saya tidak seberuntung anak-anak yang lain. Pernah saya ‘menantang’ Tuhan, saya bilang saya tidak akan pernah peduli pada Tuhan, seperti halnya Tuhan tidak pernah peduli pada hidup saya. Saya menyebut diri saya kala itu God’s Step Child. I am only God’s step child.... Saya hanya anak tiri Tuhan, yang tercipta bukan untuk berarti jadi apa-apa. Yang mungkin terlupa ketika diciptakan.

Sampai pada suatu malam di masa kuliah saya (terbayang kan seberapa lama dendam itu saya simpan?) saya sampai pada titik, saya bilang pada Tuhan, saya sudah lelah. Belasan tahun hidup dalam amarah dan terluka sungguh menyakitkan. Saya tidak sanggup menyimpan luka dan pahit ini sendiri. Saya menyerah.......

Malam itu saya berdoa. Akhirnya.

Lalu saya kirimkan sms yang panjang sekali pada dia yang membuat luka dihati saya itu. Sambil menangis saya bilang padanya: “Tidak perlu lagi berpayah-payah menutupi sesuatu yang sudah saya tahu sedari dulu. Saya sudah mengetahuinya, bahkan sedari awal. Dan meskipun saya sungguh terluka karenanya, tapi saya mengampunimu, saya memaafkanmu. Bukan demi siapa-siapa. Bukan demi dirimu, bukan demi diri orang lain. Tapi demi diri saya sendiri. Saya ingin jadi anak yang baik. Saya ingin jadi manusia yang baik. Saya ingin punya hidup yang lebih baik; tanpa dendam dan amarah lagi. Terima kasih atas semuanya. Karena atas segala yang sudah terjadi, saya menjadi dewasa, saya bertumbuh dalam iman dan saya belajar untuk memaafkan. Saya ingin hidup untuk masa depan saya, oleh karena itu lah saya melepaskan dan memaafkan apa yang sudah terjadi di masa lalu saya. Dan saya mengasihimu selamanya. Selalu......”

Kemudian saya belajar untuk memaafkan diri saya sendiri. Saya belajar untuk berhenti menghakimi diri sendiri. Bahwa apapun yang terjadi bukanlah salah saya. Dan bahwa hidup saya terlalu berharga untuk disia-siakan dengan hidup dalam dendam.

Dan saya kemudian belajar bahwa Tuhan sungguh Maha Sempurna. Ia tidak menciptakan kesia-siaan. Apa yang kita lihat sebagai cobaan sesungguhnya adalah berkat yang didalamnya disisipkan-NYA hikmat.

Saya akhirnya belajar bahwa:

Tidak punya kehidupan sebagaimana hidup yang dimiliki orang laih bukan berarti saya tidak bahagia.

Tidak memiliki apa yang orang lain miliki, bukan berarti saya tidak kaya.

Tidak menjalani hidup sebagaimana idealnya hidup orang lain, bukan berarti hidup saya tak berharga.

Tidak bisa memiliki apa yang saya inginkan, bukan berarti saya gagal.

Saya sudah memiliki segalanya, hanya saja saya terlupa untuk bersyukur atas apa yang saya sudah miliki karena terlalu sibuk mengutuk dan meratapi hidup.

Ketika saya melepaskan dendam itu, dan belajar mengampuni, hidup saya terasa lebih ringan untuk dijalani. Saya berhenti mengutuki hidup, saya berhenti meratap, saya berhenti menganggap diri saya yang paling menderita. Akhirnya, alih-alih mengharapkan sesuatu yang tidak bisa saya miliki, saya beryukur atas apa yang saya punya, saya menganggap hidup saya adalah hidup terbaik dengan orang-orang terbaik didalamnya, pekerjaan terbaik, pendidikan terbaik; Tuhan memberikan berkat begitu banyak dalam hidup saya setelahnya. Banyak hal yang saya peroleh kemudian saya sadari tidak akan saya dapatkan bila saya masih hidup dalam dendam.

Dan saya belajar, bahwa seburuk apapun yang terjadi hari ini, ia akan berlalu dan pasti jadi berkat untuk masa depan saya. Lihat bagaimana hidup dengan menyimpan amarah dan luka begitu lama membuat saya pada akhirnya paham bahwa berkat terbaik yang dipunya setiap manusia ternyata adalah Kasih dan Mengampuni.

Ketika kita belajar mengampuni dan memaafkan, Tuhan akan mengambil alih amarah dan dendam dari hidup kita itu. IA lah yang akan melakukan pembalasan. Ampunilah ketika seseorang membuat hatimu begitu terluka, tetaplah mengasihinya karena kasih tak pernah habis dihatimu. Dan lihat bagaimana Tuhan melakukan ‘pembalasan’ dalam jalan-NYA: IA akan mengganjar hidupmu dengan berkat terbaik-NYA.

Do not take revenge, my dear friends, but leave room for God's wrath, for it is written: “It is Mine to avenge; I will repay,” (Rome 12:19)