Saya
punya seorang sahabat yang menyimpan dendam bertahun-tahun terhadap
ayahnya. Ia menganggap ayahnya lah yang bertanggungjawab atas
kehidupannya yang menyedihkan, kelam, keras, dan tak seberuntung
temannya yang lain. Ia bilang, “Aku bangga jadi laki-laki bajingan, Deb.
Karena sekeras apapun aku nyoba untuk jadi orang baik, dalam darahku
sudah mengalir darah dari seorang bajingan, jadi percuma aja kan dan ga
ada yang bisa ngerubah itu.”
Saya
bilang padanya,” You have your own value. And unfortunately it is not a
value for being an asshole. We both know you could do better than that.
Kalau kamu merasa hidupmu begitu ‘jahanam’nya maka mustinya kamu harus
belajar untuk menghargai diri kamu sendiri dulu. I always put my respect
highly on myself. Because I appreciate my maker: GOD. Never lose your
faith in GOD. Salah satunya adalah dengan percaya bahwa kamu tidak
dihadirkan-NYA di dunia untuk jadi sia-sia”.
Lalu
dengan marah dia bilang,” Kamu sih enak kalo ngomong, deb! Bukan
hidupmu yang kaya anjing! Hidupmu baik-baik saja: keluargamu bahagia,
berkecukupan, apa aja yang kamu mau kamu bisa dapat, makanya kamu bisa
ngomong kaya gitu. Rasain dulu hidup kaya taik kaya aku gini, baru kita
liat kamu bisa ngomong apa....??!!!”
Saya
tak kalah marah waktu itu, saya bilang,” Oh ya? Tau apa kamu soal
hidupku? Siapa bilang hidupku baik-baik aja? Apa kamu tau bahwa kita
berdua menyimpan amarah yang persis sama, bahkan aku pernah menyimpannya
selama hampir separuh hidupku? Apa kamu tau bahwa kita pernah sama-sama
terluka oleh orang yang seharusnya kita cintai dan mencintai kita? Tapi
celakanya kita justru terpaksa hidup dalam kebencian terhadapnya...”
Di
masa kanak-kanak saya, saya pernah menyimpan amarah dan dendam pada
orang yang paling dekat dan sangat saya cintai hampir lebih dari separuh
hidup saya. Hati saya terluka, dan saya hidup dalam kepahitan. Saya
meratapi hidup saya sendiri yang menurut saya tidak seberuntung
anak-anak yang lain. Pernah saya ‘menantang’ Tuhan, saya bilang saya
tidak akan pernah peduli pada Tuhan, seperti halnya Tuhan tidak pernah
peduli pada hidup saya. Saya menyebut diri saya kala itu God’s Step
Child. I am only God’s step child.... Saya hanya anak tiri Tuhan, yang
tercipta bukan untuk berarti jadi apa-apa. Yang mungkin terlupa ketika
diciptakan.
Sampai pada suatu malam di
masa kuliah saya (terbayang kan seberapa lama dendam itu saya simpan?)
saya sampai pada titik, saya bilang pada Tuhan, saya sudah lelah.
Belasan tahun hidup dalam amarah dan terluka sungguh menyakitkan. Saya
tidak sanggup menyimpan luka dan pahit ini sendiri. Saya menyerah.......
Malam itu saya berdoa. Akhirnya.
Lalu
saya kirimkan sms yang panjang sekali pada dia yang membuat luka dihati
saya itu. Sambil menangis saya bilang padanya: “Tidak perlu lagi
berpayah-payah menutupi sesuatu yang sudah saya tahu sedari dulu. Saya
sudah mengetahuinya, bahkan sedari awal. Dan meskipun saya sungguh
terluka karenanya, tapi saya mengampunimu, saya memaafkanmu. Bukan demi
siapa-siapa. Bukan demi dirimu, bukan demi diri orang lain. Tapi demi
diri saya sendiri. Saya ingin jadi anak yang baik. Saya ingin jadi
manusia yang baik. Saya ingin punya hidup yang lebih baik; tanpa dendam
dan amarah lagi. Terima kasih atas semuanya. Karena atas segala yang
sudah terjadi, saya menjadi dewasa, saya bertumbuh dalam iman dan saya
belajar untuk memaafkan. Saya ingin hidup untuk masa depan saya, oleh
karena itu lah saya melepaskan dan memaafkan apa yang sudah terjadi di
masa lalu saya. Dan saya mengasihimu selamanya. Selalu......”
Kemudian
saya belajar untuk memaafkan diri saya sendiri. Saya belajar untuk
berhenti menghakimi diri sendiri. Bahwa apapun yang terjadi bukanlah
salah saya. Dan bahwa hidup saya terlalu berharga untuk disia-siakan
dengan hidup dalam dendam.
Dan
saya kemudian belajar bahwa Tuhan sungguh Maha Sempurna. Ia tidak
menciptakan kesia-siaan. Apa yang kita lihat sebagai cobaan sesungguhnya
adalah berkat yang didalamnya disisipkan-NYA hikmat.
Saya akhirnya belajar bahwa:
Tidak punya kehidupan sebagaimana hidup yang dimiliki orang laih bukan berarti saya tidak bahagia.
Tidak memiliki apa yang orang lain miliki, bukan berarti saya tidak kaya.
Tidak menjalani hidup sebagaimana idealnya hidup orang lain, bukan berarti hidup saya tak berharga.
Tidak bisa memiliki apa yang saya inginkan, bukan berarti saya gagal.
Saya
sudah memiliki segalanya, hanya saja saya terlupa untuk bersyukur atas
apa yang saya sudah miliki karena terlalu sibuk mengutuk dan meratapi
hidup.
Ketika
saya melepaskan dendam itu, dan belajar mengampuni, hidup saya terasa
lebih ringan untuk dijalani. Saya berhenti mengutuki hidup, saya
berhenti meratap, saya berhenti menganggap diri saya yang paling
menderita. Akhirnya, alih-alih mengharapkan sesuatu yang tidak bisa saya
miliki, saya beryukur atas apa yang saya punya, saya menganggap hidup
saya adalah hidup terbaik dengan orang-orang terbaik didalamnya,
pekerjaan terbaik, pendidikan terbaik; Tuhan memberikan berkat begitu
banyak dalam hidup saya setelahnya. Banyak hal yang saya peroleh
kemudian saya sadari tidak akan saya dapatkan bila saya masih hidup
dalam dendam.
Dan
saya belajar, bahwa seburuk apapun yang terjadi hari ini, ia akan
berlalu dan pasti jadi berkat untuk masa depan saya. Lihat bagaimana
hidup dengan menyimpan amarah dan luka begitu lama membuat saya pada
akhirnya paham bahwa berkat terbaik yang dipunya setiap manusia ternyata
adalah Kasih dan Mengampuni.
Ketika
kita belajar mengampuni dan memaafkan, Tuhan akan mengambil alih amarah
dan dendam dari hidup kita itu. IA lah yang akan melakukan pembalasan.
Ampunilah ketika seseorang membuat hatimu begitu terluka, tetaplah
mengasihinya karena kasih tak pernah habis dihatimu. Dan lihat bagaimana
Tuhan melakukan ‘pembalasan’ dalam jalan-NYA: IA akan mengganjar
hidupmu dengan berkat terbaik-NYA.
Do
not take revenge, my dear friends, but leave room for God's wrath, for
it is written: “It is Mine to avenge; I will repay,” (Rome 12:19)