September 23, 2011

"uang recehnya mau disumbangkan ???"



Adakah diantara kalian  yang pernah ‘ditodong’ Kasir di sebuah Supermarket dengan pertanyaan: ”300 Rupiahnya disumbangkan ya, Mbak?” atau “Kembalian 100 Rupiahnya disumbangkan ya, Bu/Pak?”. Oke. In my case kemarin sore, itu bukan sebuah pertanyaan. Tapi pernyataan. Karena si Mbak Kasir itu berbicara tanpa nada menggantung yang menandakan ada tanda tanya di ujung kalimatnya yang butuh jawaban dari saya. Dan Si Mbak dengan wajah tanpa  ekspresi terus saja melakukan kegiatannya dibalik meja Kassa, tanpa mau repot-repot bertanya apakah saya setuju atau tidak uang saya yang memang hanya 300 Rupiah itu untuk disumbangkan. Ini bukan perkara uang receh senilai 300 Rupiah itu. Saya tidak mau terlihat tampak kikir sekali ketika mempermasalahkan uang 300 Rupiah itu diambil secara paksa dari saya dengan mengatasnamakan kegiatan mulia bernama sumbangan kemanusiaan. Saya hanya tidak suka sistem pengebirian uang kembalian pelanggan yang kemudian disumbangkan atas nama supermarket tersebut, terlebih tanpa mau repot-repot bertanya saya setuju apa tidak? Atau saya ingin uang saya itu disumbangkan ke Yayasan mana?


Dalam Agama saya diajarkan: ketika tangan kiri memberi, tangan kanan tidak punya hak untuk tahu. Tapi tidak untuk yang satu ini. Kita butuh transparansi. Saya perlu tau dong, uang saya dan uang para pelanggan yang diambil paksa tanpa persetujuan itu akan mengalir kemana. Jumlah 300 Rupiah milik saya mungkin tidak berarti apa-apa. Tapi hitung saja jika rata-rata tiap harinya di Supermarket itu ada sekitar 500 orang berbelanja, kalikan dengan uang receh  hasil potongan dari kembalian uang belanjaan mereka (jika setiap orang dipotong 100 Rupiah saja), kalikan lagi dengan jumlah Supermarket itu tersebar di seluruh Nusantara ini. Apa bukan jumlah yang cukup besar?


Sometimes I think I was born to be a  'bitch'. To screw with people whom I don’t like. Saya adalah tipe orang yang mau sekali dengan senang hati buang waktu dan repot-repot beradu mulut dan argumen dengan orang lain, ketika saya merasa ada sesuatu yang tidak benar disana.



Maka disanalah saya sore itu. Di depan Kasir sebuah supermarket besar itu. Saya berdiri tak bergeming ketika si Mbak Kasir dengan wajah datarnya merobek struk belanjaan saya dari mesin kasir sambil berkata: “ 300 Rupiahnya disumbangkan ya, Mbak.” (tanpa tanda tanya), alih-alih bilang “Uang 300 Rupiahnya mau disumbangkan, Mbak?” (dengan tanda tanya). Saya diam tak bergeming dengan tatapan sedingin ratu iblis dan mengucapkan kata-kata yang saya harap bisa menusuk hatinya: “Darimana saya tahu uang itu betul-betul disumbangkan dan bukannya masuk kembali ke Kas Supermarket ini?” Si Mbak menjawab tak peduli yang bikin saya semakin emosi,” Nanti ada reportnya, Mbak.” Saya semakin menyebalkan: “Oh ya? Jadi sekian ribu pengunjung yang uangnya dikebiri di Supermarket ini atas nama sumbangan kemanusiaan itu akan dapat report? Dalam bentuk apa?”. Si Mbak diam saja dan mempersilahkan Ibu dibelakang saya untuk maju, tapi saya diam dan tak bergeming sedikitpun. Saya mulai perang lagi: “Kemana uangnya mau disumbangin memangnya?”. Si Mbak menjawab singkat menyebut nama sebuah yayasan kemanusiaan negeri ini. Ha! Tepat ketika saya akan memulai mulut lagi berargumen ‘Bagaimana kalau saya memilih Yayasan lain untuk disumbangkan? ‘Bagaimana kalau misalnya saya ingin uang saya disumbangkan untuk membantu pembangunan sebuah Sekolah Dasar di pedalaman Sulawesi?’ atau ‘Bagaimana kalau saya ingin menyumbang untuk LSM Perempuan?’. Saya hendak memulai adu mulut itu lagi ketika saya lihat sahabat saya Candy sudah selesai dengan belanjaannya. Saya harus ikut dia pulang kalau tidak mau ditinggal.


Maka dengan hati sangat dongkol saya tinggalkan si Mbak kasir tidak tau diri itu. Dan berdoa dalam hati, semoga uang receh saya dan uang para pembelanja lainnya yang jika dikumpulkan tentu jumlahnya bisa untuk membangun satu Supermarket besar lagi itu sungguh-sungguh sampai kepada tangan mereka yang pantas menerima, tangan mereka yang dicatut namanya demi uang receh diujung harga yang harus kami bayar. Semoga uang itu mungkin bisa membuat hidup mereka lebih layak, atau beberapa anak di pedalaman sana bisa sekolah di sekolah yang layak, bukannya mengenyangkan lagi para pembesar tidak tahu malu di negeri ini, yang punya sejuta cara untuk mengebiri uang yang bukan hak mereka, dengan lagi-lagi mengatasnamakan rakyat dan kemanusiaan.


Amin.

No comments: