September 23, 2011

surat terbuka untuk prof. thamrin amal tamagola

Prof. Thamrin,
Membaca hasil penelitian Bapak yang menyebut: “ Masyarakat Dayak menganggap bersanggama tanpa diikat perkawinan sebagai hal biasa” , sungguh-sungguh membuat hati saya yang orang Dayak ini terluka.


It was totally humiliating, Prof.


Entah melalui metodologi dan pendekatan apa penelitian tersebut dilakukan. Tapi hasilnya sungguh sangat mendiskreditkan kami, Suku Dayak.


Kakek saya tercinta, kebetulan adalah Kepala Adat Dayak Tunjung di desanya. Beliau tidak pernah sekolah, beruntung bisa baca tulis pun karena ikut program Kejar Paket A. Kakek saya biasa mengatur pernikahan secara adat di kampungnya, dan beliau paham betul  (meski tidak punya berderet-deret gelar prestisius di depan dan belakang namanya seperti Prof. Thamrin), bahwa: "Bersenggama Tanpa Diikat Perkawinan" adalah sama dengan zinah, dan bukan hal yang bisa dianggap biasa, baik dari sisi adat, sosial, terlebih agama. Kalaupun sampai terjadi (persetubuhan diluar pernikahan), biasanya yang bersangkutan akan dikenakan denda secara adat, untuk kemudian dinikahkan baik secara adat, hukum dan agama, agar jelas legalitas ikatan pernikahannya. Hal ini menerangkan, bahwa persetubuhan diluar nikah sangat bertentangan dengan adat/hukum Dayak.


Prof. Thamrin yang terpelajar, kalau tidak keberatan mungkin bisa belajar hukum dan adat Dayak pada kakek saya yang notabene buta huruf tapi melek moral.


Saya terlahir dengan darah Dayak. Salah satu suku terbesar di Indonesia yang boleh dibilang ‘terpinggirkan’ di negeri ini. Bahkan sebelum penelitian Prof. Thamrin ada, stigma Dayak dimata orang awam adalah selalu : kaum terbelakang, bodoh, tidak berpendidikan, kanibal, suka berperang, sadis, tidak bermoral dan tidak beragama. Ketika ada perang antar suku dimana suku Dayak terlibat, maka suku kamilah yang dinilai sadis dan menakutkan. Suku kami disorot dimana-mana, bukan sebagai suku terhormat dan berbudi, tapi sebagai suku pembantai yang doyan makan manusia.  Isu Sampit dan Tarakan (yang didramatisasi oleh media dengan gelimpangan mayat dari suku lain), sudah cukup mencoreng muka kami dan memberi stempel pada dahi kami sebagai suku pembunuh. Hampir setiap orang yang mendengar kata Dayak, seperti ketakutan ketika mereka bergaul terlalu dekat dengan masyarakat Dayak, maka akan dijampi-jampi atau diguna-guna oleh kami sampai mati; atau mungkin tiba-tiba Mandau melayang menebas kepala mereka. Ckckck, tidakkah kalian pahami, kami tidak sesakti itu? Bahwa kami pun sama dengan kalian, manusia biasa yang punya rasa takut dan keterbatasan.
Pernahkah kalian tahu, ketika kalian merasa takut atas bentrokan tersebut, kami pun tak kalah takutnya? Pernah kah kalian terpikirkan, bukan sukunya yang membunuh dan melukai, tetapi manusianya.


Maka, Prof. Thamrin, sudah cukup kami terluka dengan stigma suku yang sadis, tolong jangan tambah lagi luka di hati kami masyarakat Dayak dengan penelitianmu bahwa kami suku tak bermoral. Kami mungkin tidak terpelajar seperti Profesor. Kami hanya punya hutan sebagai rumah terbaik kami (yang anda tahu, banyak ‘mengenyangkan’ para pembesar dinegeri ini dengan hasil hutannya); dan kami hanya punya alam sebagai guru yang mengajarkan arti hidup bagi kami. Hanya karena beberapa saudara kami masih tinggal jauh di pedalaman Kalimantan, bukan berarti kami tidak mengindahkan norma dan moral tidak kami pakai. Dan hanya karena kami suku yang ‘dipinggirkan’, bukan berarti kami tidak ber-TUHAN.


Semoga Profesor mengerti.


Salam,


Debora

No comments: