September 24, 2011

merapi sedang merangkul manusia.

Ketika saya menulis ini, di TV masih saja sibuk dengan berita-berita yang kata beberapa orang ‘lebay’. Dengan headline news yang cukup berhasil membuat kita patah semangat, seperti: Merapi Meletus!, Merapi Meletus Kembali!, Merapi Meletus Hebat!, Merapi Masih Mengancam!; lengkap dengan tanda seru nya yang dramatis. Kemudian ditingkahi dengan gambar mayat bergelimpangan yang tertutup abu vulkanik, wajah-wajah para lansia yang menangis, dan untuk lebih menyayat hati, ditambahkan dengan sedikit soundtrack khusus bencana: lagu Ebiet G Ade atau lagu Opick. Sungguh-sungguh pemandangan yang mampu bikin hati robek.
Buat saya headline news-headlines news atau berita-berita semacam ini cukup bikin hati ciut, terutama bagi mereka yang mungkin sanak keluarga, sahabat dan orang-orang tercinta mereka berada di daerah bencana Merapi, seperti halnya saya.
Saya berpaling, mencoba mencari berita yang cukup menguatkan, yang menjanjikan bahwa semua akan baik-baik saja. Bahwa Merapi hanya sedang ‘ngambek’, ia tidak sekejam manusia yang menilainya kejam. Ia hanya bereaksi. Sampai saya temukan kata-kata paling menyejukkan hati dari seorang rohaniwan bernama Romo Kirjito yang kemudian saya jadikan judul tulisan ini: Merapi sedang Merangkul Manusia.
Erupsi gunung teraktif di Jawa itu telah menggerakkan manusia untuk memerhatikan sesama. ”Dalam peristiwa itulah rasa kemanusiaan mengalahkan segala-galanya. Semangat hidup berbagi untuk sesama menemukan jawabannya di tengah-tengah bangsa yang sedang mengalami krisis kemanusiaan ini,” ujar Romo Kirjito. Lihatlah ketika semua orang turun dalam bencana Merapi. aparat, mahasiswa, tua, muda, laki-laki, perempuan, Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu, Kejawen, Atheist (mungkin saja ada kan), LSM/NGO, partai politik -terlepaslah ada misi lain dari bantuan-bantuan mereka-. (Ngomong-ngomong, FPI yang paling getol ngurusin moral bangsa ini kemana yaa???? :) :)...)
Sungguh berbeda dengan yang dilakukan segelintir manusia yang dengan jumawa menepuk dada, menyebut diri mereka: wakil rakyat.
Beruntung saya Abstainer (Golput). Saya tidak memilih/mencoblos gambar wajah manusia manapun di kertas pemilih yang katanya wakil (calon waktu itu) rakyat.
Kalau tidak, saya pasti malu setengah mati manakala mereka-mereka yang saya pilih itu ternyata adalah mereka yang sekarang sedang studi banding (baca=plesir) ke negara-negara pembanding (yang koq bisa-bisanya ya, kebetulan adalah negara tujuan wisata); alih-alih berada disini, dinegeri yang sedang prihatin manakala 3 bencana alam terjadi dalam waktu yang berdekatan.
Untunglah saya golput, yang tidak pernah sudi memberikan suara saya untuk memilih satupun dari mereka untuk duduk mewakili saya (baca=rakyat) di dewan perwakilan sana.
Tapi biarlah, kita lihat saja sumbangsih apa yang akan mereka bawa bagi negeri ini sepulang studi banding maha penting mereka itu kelak sekembali mereka ke tanah air. (Saya diam-diam berdoa, semoga mereka dipecat dengan tidak hormat sebelum bisa mengimplementasikan apa yang mereka dapat dari studi banding itu)
Saya lebih ‘tertarik’ melihat sikap dari Pak SBY yang memilih untuk berkantor di Yogyakarta, agar cepat dan mempermudah dalam pengambilan keputusan dalam bencana Merapi. Mari lupakan dulu pikiran negatif mengenai beliau yang sibuk dengan pencitraan dirinya, tebar pesonanya. Mari tidak ber su’udzon. Mari lihat niat baiknya. Terlepas ada muatan politik atau tidaknya, paling tidak kehadiran beliau ditengah-tengah bencana saya kira layaklah kita sambut baik. Banyak yang mencibir ketika SBY memutuskan berkantor di Yogyakarta. Ada yang bilang, apabila Presiden berkantor di Yogyakarta, jalur birokrasi akan semakin panjang dan rumit, pengambilan keputusan akan melalui proses yang lama. Ada lagi yang bilang apabila ada Presiden, maka segala bentuk protokoler dan remeh temehnya akan melekati beliau.
Dewasalah sedikit, Indonesia.
Toh bukan mau beliau ketika beliau datang mengunjungi korban Merapi, seperti ada sulap dalam semalam, jalan-jalan yang tadinya rusak tiba-tiba diaspal dalam waktu secepat kilat, tenda-tenda pengungsi yang tadinya berdiri seadanya tiba-tiba berdiri tegak dan rapi, pengungsi yang tadinya hanya tidur beralaskan tikar tiba-tiba bisa tidur diatas kasur, nasi bungkus yang tadinya rasanya tidak karuan tiba-tiba jadi enak ketika dicicipi SBY, anak-anak yang kelelahan sehabis mengungsi dipaksa bernyanyi “disini senang, disana senang”.
Saya rasa itu bukan mau SBY. Beliau mungkin bahkan tidak tahu ketika sepulangnya dari kunjungan, tiba-tiba tenda tadi kembali dibiarkan saja seadanya, kasur yang tadinya ada tiba-tiba berganti jadi tikar lagi, nasi bungkus enak kembali lagi seperti biasa. Saya yakin, itu bukan mau beliau. Bukan perintah beliau. Pastilah ulah para mereka-mereka yang ABS (asal bapak senang).
Seperti yang saya bilang diawal. Saya abstainer, saya golput. Saya tidak pernah memilih.
Apalagi memilih SBY sebagai presiden negeri ini. Mengapa? Cukup saya yang tau. Tapi bukan berarti saya tidak boleh menghargai apa yang beliau lakukan. Saya salut atas apa yang beliau lakukan. Paling tidak, beliau masih punya empati, masih punya nurani untuk tetap bersama-sama rakyatnya disaat bencana, bukannya pergi ke luar negeri untuk melakukan deal-deal politik, studi banding, atau apalah itu namanya.
……….
Saat ini, hati dan pikiran saya tercurah untuk orang-orang yang saya cintai di Jogja. Terlebih Jogja adalah rumah kedua saya. Pernah saya habiskan hidup selama 6 tahun disana. Jogja memberikan begitu banyak hal-hal terbaik dalam hidup saya: cinta, persahabatan, keluarga baru dan pelajaran hidup. Maka doa saya pun terkirim kepada Tuhan di Surga; semoga Ia memberkati Jogja, kekasih tercinta, sahabat saya bersama keluarganya, dan teman-teman saya yang tinggal di dalamnya.
Tuhan dalam gambaran saya adalah Tuhan Maha Baik. Bukan Tuhan pemberi azab. Maka saya menolak menyebut bencana ini sebagai azab dari-Nya. Bagi saya, Tuhan tidak pernah menghukum, Ia hanya memberikan berkat dalam bentuk yang hanya dipahami oleh-NYA mampu untuk diterima, dijalani dan disyukuri oleh kita. Tuhan hanya sedang ‘menggunakan’ Merapi untuk mengajarkan manusia-manusia yang dicintai-NYA mengenai arti berbagi dan berempati.

Semoga Tuhan, memberkati saya, kamu, kalian dan setiap hati yang menerima berkatnya dengan ikhlas.
Tuhan akan memulihkan Merapi, Mentawai, Wasior.
Tuhan akan pulihkan Indonesia.
Tetap teguh dalam doa dan iman.
Tuhan selalu memberkati.
:)

No comments: